29.4 C
Indonesia

Tewasnya Shinzo Abe: Duka Cita dan Pertanyaan Dunia Tentang Keamanan Jepang

Must read

JEPANG – Kabar penembakan mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dengan cepat menyebar luas, tidak hanya ke seluruh penjuru negeri itu sendiri, melainkan juga ke seluruh penjuru dunia.

Ia ditembak oleh seorang laki-laki yang disebut-sebut berusia 41 tahun di Kota Nara, Jepang barat, hari ini, Jumat (8/7), sekitar pukul 11.30 waktu setempat.

Sebelum penembakan, ia diketahui tengah berpidato tentang pemilihan Majelis Tinggi Jepang yang akan berlangsung sebentar lagi.

Tiba-tiba, dua suara tembakan terdengar berturut-turut, memecah suasana serius yang ada, dan mengantarkan peluru ke tubuh sang mantan perdana menteri.

Ia pun tumbang pada peluru kedua. Orang-orang yang berada di sekitarnya berlarian panik, para petugas berusaha memberikan pertolongan pertama, sementara pelaku tidak melarikan diri dan membiarkan dirinya ditangkap.

Abe dinyatakan meninggal setelah menerima upaya penyelamatan.

Kantor berita Kyodo menyampaikan bahwa jantung Abe sepertinya berhenti berdetak ketika ia dilarikan ke rumah sakit.

Kepergian sosok yang dinilai sebagai salah satu pemimpin terbaik ini pun mengundang perhatian dari banyak orang.

Mulai dari rakyat biasa hingga para petinggi dunia yang pernah bekerja sama dengan Abe menyampaikan duka cita mereka.

“Dalam kunjungan terbaru saya ke Jepang, saya mendapat kesempatan untuk bertemu kembali dengan Pak Abe dan membahas banyak masalah,” tulis Perdana Menteri Narenda Modi di akun Twitternya.

“Dia cerdas dan berwawasan luas seperti biasa. Sedikit yang saya tahu bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir kami. Belasungkawa tulus saya untuk keluarganya dan orang-orang Jepang,” lanjutnya.

Dilansir dari TIME, Abe telah membuat langkah besar untuk meningkatkan hubungan diplomatik antara Jepang dan India pada masa kerjanya dahulu.

Langkah itu termasuk penandatanganan perjanjian nuklir sipil bersejarah pada tahun 2016.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan bahwa ia “terkejut, marah, dan sangat sedih” mendengar berita bahwa Abe, yang ia sebut sebagai temannya, ditembak dan kini telah tiada.

“Amerika Serikat berdiri bersama Jepang di saat duka ini,” tulisnya di Twitter.

Selain banyaknya salam duka cita yang datang dari kiri dan kanan, berbagai pertanyaan bernada sama juga telah bermunculan:

Bagaimana ini bisa terjadi?

Bukankah Jepang negara yang aman?

Bukankah tidak ada senjata api di Jepang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut ditulis oleh para netizen di kolom balasan dari unggahan sejumlah outlet berita internasional.

Dilansir dari Reuters, aturan ketat yang diterapkan Jepang tidak mengizinkan warga untuk memiliki pistol.

Pemburu berlisensi bahkan hanya diperbolehkan memiliki senapan.

Calon pemilik senjata harus melewati sejumlah tahapan yang, sejatinya, merepotkan.

Mulai dari pelatihan, tes tertulis, evaluasi kesehatan mental, hingga pengecekan latar belakang.

Akan tetapi, pelaku kejahatan hari ini ternyata tidak menggunakan salah satu dari keduanya.

Dari foto-foto yang diambil di lokasi dan waktu kejadian, pelaku tampaknya menggunakan soft gun buatan pribadi.

Ia disebut-sebut pernah menjalani kehidupan Angkatan Laut sehingga memiliki kemampuan untuk merakit dan menggunakan senjata dengan apik.

Serangan terhadap politisi di Jepang juga bukanlah hal yang biasa, yang dapat meningkatkan kewaspadaan para penjaga.

Secara khusus, pembunuhan terhadap mantan perdana menteri terakhir kali terjadi pada tahun 1930-an, ketika Jepang tengah membangun kekuatan militer sebelum perang.

Menyinggung keamanan, salah seorang pengguna Twitter juga berasumsi bahwa kondisi Jepang yang terkenal, dan terbukti, sangat aman mungkin berpengaruh pada minimnya tingkat kewaspadaan terhadap hal-hal yang tidak terduga.

Rupert Wingfield-Hayes dari BBC juga menyatakan hal serupa.

Dalam tulisannya, ia mengaku tinggal di Jepang dan berdasarkan pengalamannya, selama tinggal di sana, orang-orang akan terbiasa untuk tidak memikirkan tindak kejahatan karena keamanan yang ada di negara tersebut.

“Mengingat betapa amannya Jepang, keamanan di sini sangat santai,” tulisnya.

“Selama kampanye pemilu, seperti yang sedang berlangsung, politisi benar-benar berdiri di sudut jalan memberikan pidato dan berjabat tangan dengan para pembeli dan orang-orang yang lewat.

“Hampir pasti mengapa penyerang Abe bisa begitu dekat dan melepaskan senjata yang telah dia buat bersamaan,” jelasnya.

Ia pun mengatakan bahwa kejadian ini harus bisa mengubah Jepang ke depannya.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru