24.4 C
Indonesia

Kesaksian Perawat AS tentang Sikap Staf RS Indonesia di Tengah Pemboman Gaza

Must read

JAKARTA – Seorang perawat berkewarganegaraan Amerika Serikat, Emily Callahan, belum lama ini mengungkap pengalamannya bertugas di Gaza, Palestina.

Dalam wawancara dengan CNN, Callahan mengatakan bahwa ia lega bisa kembali ke negara asalnya, berkumpul bersama keluarganya, setelah 26 hari berada di Gaza.

Meskipun begitu, ia mengaku tidak bisa merasakan kebahagiaan karena kepulangannya didapatkannya berkat orang-orang yang bertahan di Gaza.

“Tentu saja saya merasa lega bisa pulang ke rumah dan berkumpul kembali dengan keluarga saya dan merasa aman untuk pertama kalinya setelah 26 hari,” tuturnya.

“Namun sangat sulit bagi saya untuk menikmati itu semua. Karena saya aman dengan meninggalkan semua orang di Gaza,” sambungnya.

Wanita yang merupakan manajer perawat Doctors Without Borders itu menceritakan kekacauan di Gaza–yang sejak bulan lalu berada di bawah agresi militer Israel.

Berdasarkan pengakuannya, diketahui bahwa banyak anak-anak Gaza yang mengalami luka bakar di tubuh mereka, termasuk wajah, leher, bahkan perut.

Rumah sakit kewalahan dengan banyaknya pasien yang harus dirawat, sehingga yang telah selesai diobati terpaksa dipindahkan ke kamp pengungsian.

Sayangnya, masalah tidak begitu saja selesai. Kamp pengungsian disebut kekurangan air bersih dan hanya memiliki empat toilet untuk 50 ribu orang yang ditampung.

“Banyak orang tua yang membawa anaknya kepada kami untuk memohon agar diobati, tapi kami juga kehabisan pasokan (obat-obatan),” kata Callahan.

Selain kekurangan pasokan air dan obat-obatan, tim medis di Gaza juga kekurangan makanan. Mau tidak mau, mereka menghemat makanan dengan hanya mengonsumi 700 kalori setiap harinya.

Jaringan telekomunikasi yang terputus dan bom yang selalu berjatuhan setiap harinya memperparah kondisi di Gaza.

Callahan dievakuasi pada Rabu (1/11) pekan lalu, setelah keamanannya mulai terancam akibat orang-orang yang putus asa mulai melampiaskan amarah ke dirinya.

Ia mengaku sempat bertanya kepada staf medis Palestina, adakah dari mereka yang akan ikut evakuasi ke selatan.

Akan tetapi, para staf menolak meninggalkan orang-orang di daerah tersebut dan memilih untuk tetap berusaha menyelamatkan banyak nyawa.

“Mereka mengatakan, ‘ini masyarakat kami, ini adalah keluarga kami, teman kami, jika mereka membunuh kami, kami akan mati dengan menyelamatkan banyak nyawa’,” kenangnya.

Callahan pun memuji staf-stafnya, yang bekerja di Rumah Sakit Indonesia, atas keluasan hati mereka. Ia menyebut mereka sebagai “orang paling luar biasa” yang pernah ditemuinya.

Setibanya di Amerika Serikat, Callahan tetap menjaga komunikasi dengan staf-stafnya di Rumah Sakit Indonesia.

Ia mengirim pesan setiap pagi dan malam untuk menanyakan kabar mereka, untuk bertanya apakah mereka masih hidup.

“Orang-orang yang memilih untuk tinggal di Gaza adalah pahlawan, mereka tahu mereka akan mati dan mereka memilih untuk menetap,” kata Callahan.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru