21.4 C
Indonesia

Jokowi Sebut Mahalnya Harga Beras Disebabkan oleh Perubahan Iklim

Must read

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpendapat bahwa penyebab meroketnya harga beras di pasaran belakangan ini adalah perubahan iklim atau cuaca.

Menurutnya, perubahan iklim atau cuaca berakibat pada produksi yang berkurang karena banyak petani yang mengalami gagal panen.

“Kenapa [harga] naik? Karena ada yang namanya perubahan iklim, perubahan cuaca, sehingga banyak yang gagal panen,” ujarnya, Senin (19/2), dikutip dari Bisnis.

“Padahal yang makan tetap, produksinya berkurang, sehingga harganya menjadi naik,” sambungnya.

Harga beras yang terus meningkat diketahui telah berdampak pada masyarakat. Tak hanya harganya meningkat, ketersediaannya juga sulit ditemukan di sejumlah tempat.

Hal ini pun mendorong pemerintah terus-menerus menyalurkan bantuan sosial (bansos) berupa beras kepada masyarakat yang kesulitan mendapatkannya.

Dikatakan Jokowi, bansos beras akan tetap berlanjut jika anggaran negara mencukupi.

Jadi ini Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni. Nanti setelah Juni kita lihat APBN-nya mencukupi tidak, kalau mencukupi dilanjutkan lagi,” ujarnya.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim stok beras saat ini sebenarnya melimpah karena ada surplus tahun lalu.

Melansir CNN Indonesia, Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementan Moh. Ismail Wahab mengatakan ada surplus 3 juta ton dari selisih produksi serta impor dengan konsumsi di 2023, yang kemudian di-carryover ke awal tahun ini.

Ditambah dengan produksi beras dalam negeri awal tahun sebanyak 910 ribu ton dan impor awal tahun sebanyak 400 ribu ton, jumlah keseluruhannya mencapai 4,31 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan konsumsi beras pada Januari 2024 hanya mencapai 2,54 juta ton. Ismail pun menekankan bahwa Indonesia sebetulnya tidak kekurangan beras.

Meskipun begitu, ia berpendapat bahwa stok beras saat ini telah berpindah dari ritel ke rumah tangga sehingga sulit ditemukan.

“Ini yang sekarang kita kurang mempunyai pencatatan terhadap logistik ini, artinya ke mana larinya (beras) sehingga beras kita sampai sekarang ini masih cukup mahal dan sekarang kondisinya sedikit agak sulit?” ujarnya.

“Mungkin bukan masalah tidak ada beras, tetapi ada perpindahan stok beras kita yang semula ada di ritel-ritel sudah berpindah ke rumah tangga produsen atau konsumen,” sambungnya.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru