22.4 C
Indonesia

Jeritan Hati Nelayan: Jumlah Ikan Merosot Drastis Sejak Tambang Emas Tumpang Pitu di Banyuwangi Beroperasi

Must read

BANYUWANGI – Tambang Emas Tumpang Pitu pertama kali melakukan penambangan bijih (ore) pada tahun 2016 lalu. Sejak saat itu, puluhan hingga ratusan ribu ons dikeruk setiap tahunnya.

Gunung yang sebelumnya hijau berseri dengan hutan yang rimbun kini tampak kuning kecokelatan dan gundul.

Kendaraan proyek silih berganti keluar-masuk area pertambangan, melewati permukiman warga, menambah keramaian.

Meskipun PT BSI selaku pihak yang mengoperasikan tambang telah menyediakan berbagai hal untuk warga setempat, mulai dari lapangan pekerjaan hingga bantuan usaha, dampak buruknya terhadap lingkungan tidak bisa terhindarkan.

Mengingat lokasinya yang berdekatan dengan laut, dampak itu pun juga terasa hingga ke sana.

Seperti yang dialami oleh Ahmad Darsono, alias Pak Mad, seorang nelayan dari Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Semenjak tambang emas beroperasi di desanya, ia merasa kesulitan mencari ikan, jauh berbeda dengan saat dulu sebelum ada tambang.

“Dengan kehadiran tambang di sini, maka saya nggak percaya [dengan] apa yang disampaikan … bahwa tambang ini ramah, sangat sangat sekali tidak menyentuh, tidak sesuai dengan apa yang praktek di lapangan,” tuturnya kepada For Banyuwangi, gerakan warga yang menolak Tambang Emas Tumpang Pitu.

Ia memberi contoh nasib “nelayan darat” yang kesulitan mencari remis (kerang-kerangan kecil).

Menurutnya, dahulu, para nelayan remis bisa mengumpulkan hingga ribuan ton saat memasuki musimnya.

Akan tetapi, kini, jangankan hitungan ton, hitungan kilogram saja menurutnya tidak sampai.

“Kalau sekarang, setelah kehadirannya Tambang Tumpang Pitu, jangankan cari ton, bahasanya ratusan ton, tadi satu kilo aja, sepanjang pantai dari Pancer ke Pulau Merah, sangat sulit mencari kremis seberat satu kilo,” paparnya.

Selain itu, Pak Mad juga merasa terbebani dengan biaya peralatan yang dibutuhkan untuk dapat bekerja dengan maksimal.

Jika dahulu ia bisa berangkat hanya dengan uang Rp25 ribu untuk membawa pulang hasil tangkapan yang maksimal, kini ia harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu.

Oleh sebab itu, menurutnya, keberadaan tambang di lingkungannya sangatlah merugikan.

Pak Mad mengaku tidak pernah mengubah inti jawabannya setiap kali menerima pertanyaan yang sama dari berbagai pihak.

Baik itu dari pemerintah daerah, DPR, bahkan ketika ditanya oleh Presiden Jokowi sekalipun, jawabannya akan selalu sama.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru