23.4 C
Indonesia

Disebut Tolak Penumpang Gemuk, Qatar Airways Diharuskan Bayar Terapi Psikologi Senilai Rp58 Juta

Must read

BRASIL — Pengadilan di Sao Paulo, Brasil, memutuskan Qatar Airways harus membayar terapi seorang model plus-size setelah ia diduga menerima diskriminasi dari pegawai maskapai tersebut karena terlalu gemuk.

Hal ini berawal dari pengakuan Juliana Nehme, seorang model dan influencer media sosial, yang berbasis di Brasil.

Pada 22 November lalu, ia seharusnya pulang dari liburannya di Libanon. Dari ibu kota negara itu, Beirut, ia dijadwalkan terbang dengan pesawat Qatar Airways ke Doha, Qatar, sebelum tiba di Sao Paulo.

Akan tetapi, perjalanannya itu gagal karena pihak maskapai melarangnya memasuki pesawat. Ia mengaku larangan itu muncul karena dirinya yang terlalu gemuk.

“Sungguh memalukan untuk perusahaan seperti Qatar mengizinkan diskriminasi seperti ini pada orang-orang! Saya gemuk, tapi saya sama seperti yang lainnya!” ungkap Nehme di akun Instagram-nya, @juliananehme, dikutip dari Daily Mail.

Dalam sebuah video yang diunggahnya, ia menunjukkan bahwa ia berada di meja pelayanan Qatar Airways dan menegaskan bahwa ia memiliki tiket pesawat untuk terbang ke Doha dan dari Doha ke Brasil.

Tanpa alasan, lanjutnya, pramugari dari maskapai itu mengatakan bahwa ia tidak bisa memasuki pesawat karena terlalu gemuk.

“Dan menurutnya, saya tidak punya hak untuk punya tiket pesawat ini,” tambahnya, yang berbicara dalam bahasa Portugis.

Nehme kemudian melanjutkan bahwa ia tidak pergi sendiri ke negara itu, melainkan bersama ibu, saudara perempuan, dan keponakannnya.

Itu artinya, ia mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mereka berempat pulang ke negara asal, dengan satu tiketnya dibelinya dengan harga $1.000, atau sekitar Rp15,6 juta.

“Sekarang apa yang harus saya lakukan? Mereka menolak hak saya untuk bepergian, tapi saya datang ke sini dengan AirFrance dan semuanya berjalan dengan baik, saya tidak memiliki masalah,” katanya.

Wanita berusa 38 tahun itu juga mengatakan bahwa pihak maskapai memintanya membeli tiket untuk kelas eksekutif–yang menyediakan kursi yang lebih besar.

Atas kejadian itu, pengadilan yang dipimpin oleh Hakim Renata Martins de Carvalho kemudian memutuskan bahwa  Qatar Airways harus membayar perawatan psikiatri atau psikologi untuk Nehme.

Perawatan itu harus terdiri dari “sesi terapi mingguan senilai BRL 400 (sekitar Rp1,2 juta) untuk jangka waktu setidaknya satu tahun, dengan total BRL 19.200 (sekitar Rp58 juta), untuk disimpan di rekening bank penggugat”.

Hakim Carvalho mengatakan “pemberian bantuan mendesak adalah tindakan yang masuk akal dan proporsional untuk memastikan bahwa peristiwa stres dan traumatis diatasi” oleh Nehme.

Nehme dan ibunya akhirnya dapat pulang pada tanggal 25 November setelah duta besar Brasil berbicara dengan presiden dari maskapai tersebut.

Qatar Airways mengatakan penumpang kasar dan agresif

Dalam pernyataannya, Qatar Airways membenarkan bahwa pihaknya mungkin akan meminta penumpang “yang menghalagi ruang sesama penumpang dan tidak sapat mengamankan sabuk pengaman atau menurunkan sandaran tangan” untuk membeli kursi tambahan.

Selagi hal itu “sejalan dengan praktik industri dan serupa dengan sebagian besar maskapai penerbangan”, mereka menegaskan bahwa itu juga merupakan tindakan pencegahan keselamatan serta untuk kenyamanan dan keselamatan penumpang.

Sementara itu, untuk kasus Nehme–yang mereka rujuk sebagai penumpang di Bandara Beirut, mereka menyebutnya bukan karena diskriminasi.

Melainkan karena pihak sang model yang “sangat kasar dan agresif” terhadap staf ketika salah satu rombongannya tidak memberikan dokumen tes PCR yang dibutuhkan untuk memasuki wilayah Brasil.

“Akibatnya, keamanan bandara diminta untuk turun tangan karena staf dan para penumpang sangat prihatin dengab perilakunya,” imbuh maskapai itu.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru