29.4 C
Indonesia

Coca-Cola, Danone, dan Nestlé Dilaporkan Atas Dugaan Lakukan Greenwashing

Must read

INGGRIS – Coca-Cola, Danone dan Nestle dituduh membuat klaim menyesatkan tentang botol air plastik mereka yang “100% didaur ulang”.

Sebuah badan konsumen dan dua kelompok lingkungan hidup telah mengajukan keluhan hukum kepada Komisi Eropa atas dugaan greenwashing.

Mereka berpendapat bahwa botol-botol tersebut tidak seluruhnya terbuat dari bahan daur ulang.

Coca-Cola mengatakan klaim kemasannya dapat dibuktikan, sementara Nestlé mengatakan pihaknya mengurangi penggunaan kemasan plastik.

Adapun Danone mengatakan pihaknya terus berinvestasi dalam infrastruktur daur ulang.

Melansir BBC, perusahaan-perusahaan dituduh melakukan greenwashing ketika mereka mengiklankan sesuatu lebih ramah lingkungan atau berkelanjutan daripada yang sebenarnya.

Hal ini dapat menyesatkan konsumen yang berharap dapat membantu planet ini dengan memilih produk tersebut.

Pengaduan ke Komisi Eropa berfokus pada klaim perusahaan bahwa botol air plastik sekali pakai yang mereka pasok 100% didaur ulang, atau 100% dapat didaur ulang.

Organisasi Konsumen Eropa, yang didukung oleh kelompok lingkungan Client Earth dan ECOS, mengatakan hal ini menyesatkan, terutama jika disertai dengan citra atau branding ramah lingkungan.

Mereka bersikeras bahwa botol-botol tersebut tidak seluruhnya terbuat dari bahan daur ulang, dan kemampuan untuk mendaur ulangnya bergantung pada sejumlah faktor, termasuk infrastruktur yang tersedia.

“Buktinya jelas–botol air plastik tidak didaur ulang lagi dan lagi menjadi botol baru di Eropa,” kata Rosa Pritchard, pengacara plastik di ClientEarth.

“Tingkat daur ulang botol ‘100%’ secara teknis tidak mungkin dilakukan dan, hanya karena botol terbuat dari plastik daur ulang, bukan berarti botol tersebut tidak membahayakan manusia dan planet bumi.

“Penting bagi perusahaan untuk tidak menganggap daur ulang sebagai obat mujarab dalam krisis plastik–sebaliknya mereka perlu memfokuskan upaya untuk mengurangi penggunaan plastik di sumbernya,” jelasnya.

Sebagai tanggapan, Coca-Cola mengatakan pihaknya “berusaha mengurangi jumlah kemasan plastik” yang digunakan.

Selain itu, mereka juga mengatakan tengah berinvestasi untuk mengumpulkan dan mendaur ulang kemasan yang setara dengan yang digunakan.

“Kami hanya mengkomunikasikan pesan-pesan pada kemasan kami yang dapat dibuktikan, dengan kualifikasi relevan apa pun ditampilkan dengan jelas untuk memungkinkan konsumen membuat pilihan yang tepat,” kata Coca-Cola.

“Beberapa kemasan kami membawa pesan untuk mendorong kesadaran daur ulang, termasuk apakah kemasan kami dapat didaur ulang dan apakah kemasan tersebut terbuat dari bahan daur ulang,” tambah mereka.

Sementara itu, juru bicara Nestlé mengatakan pihaknya bekerja keras untuk mengurangi jumlah kemasan plastik yang digunakan.

Nestlé juga disebut memimpin investasi dan mendukung sirkularitas kemasan bersama mitra dan berkomunikasi secara jelas dengan konsumen yang ingin membuat pilihan berdasarkan informasi.

“Nestle telah mengurangi jumlah kemasan plastik murni sebesar 10,5% sejak tahun 2018, dan kami berada di jalur yang tepat untuk mengurangi sepertiga jumlah plastik murni pada akhir tahun 2025,” tutur juru bicara tersebut.

Adapun Danone lewat sebuah pernyataan mengatakan mereka “sangat percaya” pada sirkularitas kemasan dan akan terus berinvestasi dan memimpin kampanye untuk infrastruktur pengumpulan dan daur ulang yang lebih baik bersama mitra.

Jika Komisi Eropa menyetujui keluhan tersebut, Komisi Eropa dapat mengatur tanggapan yang terkoordinasi di antara otoritas konsumen nasional, yang kemudian dapat mengambil tindakan.

Hal ini dapat berupa meminta perusahaan untuk memperbaiki situasi, atau mengenakan denda di wilayah mereka sendiri.

Komisi tersebut tidak mempunyai wewenang untuk menjatuhkan hukuman sendiri.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru