25.4 C
Indonesia

Bernasib Sama dengan Istana Presiden, Kantor PM Sri Lanka Juga Dikuasai Massa

Must read

SRI LANKA – Beberapa jam setelah aksi kabur-kaburan Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa kemarin, Rabu (13/7), berhasil, ia menunjuk Perdana Menteri (PM) Ranil Wickremesinghe untuk naik sebagai Penjabat Presiden, menggantikan dirinya yang “absen”, sesuai Undang-Undang.

Akan tetapi, hal itu justru semakin membakar emosi sebagian warga Sri Lanka yang juga menginginkan Wickremesinghe untuk pergi dari jabatannya.

Gelombang massa pun kembali terlihat tak lama setelahnya. Kali ini mereka menuju kantor PM yang juga berlokasi di ibu kota, Kolombo.

Kedatangan kerumunan ribuan orang itu dibalas dengan tembakan gas air mata oleh polisi, namun sama seperti sebelumnya, area tersebut juga berhasil diduduki.

Para demonstran kemudian disebutkan “menikmati” fasilitas yang ada di sana.

Mereka duduk-duduk di sofa yang mewah, berfoto, bahkan berdiri di atas kursi dan meja sambil mengibarkan bendera Sri Lanka.

Dalam sebuah pidato di televisi, Wickremesinghe meminta para pengunjuk rasa untuk meninggalkan kantornya dan kantor-kantor negara lainnya serta bekerja sama dengan pihak berwenang.

“Kita tidak bisa merobek konstitusi kita. Kita tidak bisa membiarkan kelompok fasis mengambil alih. Kita harus mengakhiri ancaman fasisme terhadap demokrasi ini,” katanya, dikutip BBC.

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa. (Foto: Andy Buchanan/Pool/Reuters)

Pada saat yang sama, status keadaan darurat nasional telah diterapkan.

Polisi mengatakan bahwa mereka juga memberlakukan jam malam untuk menanggulangi aksi-aksi protes yang berkembang setelah Rajapaksa melarikan diri.

Seperti yang diketahui, pemimpin berusia 73 tahun itu sebelumnya disebutkan akan mengundurkan diri pada hari Rabu pekan ini.

Keputusan itu muncul setelah protes berbulan-bulan tentang keadaan di Sri Lanka yang tidak kunjung membaik.

Negara Asia Selatan itu tengah menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam 70 tahun terakhir, yang mengantarkan seluruh negeri ke keadaan serba sulit.

Mereka kekurangan bahan pokok, makanan, obat-obatan, hingga bahan bakar.

Penggunaan listrik setiap hari dibatasi sedemikian ketat dan sekolah ditutup.

Rajapaksa dituduh melakukan korupsi tingkat tinggi dan salah urus sehingga negara pimpinannya bangkrut.

“Sejak presiden berada di luar negeri, keadaan darurat telah diumumkan untuk menangani situasi di negara ini,” kata Dinouk Colombage, juru bicara Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, kepada AFP.

Akan tetapi, status yang sebelumnya ditetapkan berlaku hingga batas waktu yang tidak ditentukan itu dicabut setelah berlaku kurang dari 24 jam.

spot_img

More Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Artikel Baru